Halaman

Minggu, 14 Februari 2010

udin Vs Pak Dosen

. Minggu, 14 Februari 2010
1 komentar

suatu hari, udin seorang mahasiswa yang agak bandel tapi juga  kritis mengikuti matakuliah filsafat. Kebetulan yang menjadi dosennya adalah salah satu penganut ideology atheis. Dosen bertanya kepada mahasiswanya:” ada yang pernah melihat tuhan?”. Para mahasiswa diam tak menjawab. “ ada yang pernah mendengar suara tuhan?” kata sang dosen dengan nada keras. Kali ini pun tak ada seorang pun yang menjawab. Sang dosen semakin panas. “ ada yang pernah menyentuh tuhan?” Tanya dosen lagi. Semua kembali terdiam,dan dengan sinis dosen itu berkata : “ jadi kesimpulannya tuhan itu tidak ada !!”

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 12 Februari 2010

VALENTINE YANG TERTUNDA

. Jumat, 12 Februari 2010
4 komentar

Orang banyak berkeyakinan 14 FEBRUARY sebagai hari KASIH SAYANG. Hari yang menyimbolkan keagungkan terhadap cinta. Berbagai macam perayaan diadakan untuk memperingatinya. Begitu pula dengan aku, ku mencoba memperingatinya dengan menyajikan ulasan tentang dengan tema“menjadi diri sendiri”. Upsss..apa hubungannya dengan VALENTINEDAY.?

Klik disini untuk melanjutkan »»

SURAT BUAT MAMA

.
1 komentar

Ma, pagi ini tak beda dengan pagi-pagi sebelumnya
Pagi yang selalu hangat dirumah kita
Pagi, Yang diisi senyum keluarga ini
Pagi, yang disirami damai embun diatap-atap rumah ini
Pagi yang menjadi saksi terbangunnya jutaan jiwa dengan perut kosong
Pagi yang selalu disambut tetes air mata manusia-manusia terjajah
Pagi yang selalu diwarnai senyum penguasa
Senyum yang tersungging diatas jutaan perut yang lapar

Klik disini untuk melanjutkan »»

orang bodoh VS orang pintar

.
2 komentar


Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya di bisnis. 
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar. 
Walhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh. 

Orang bodoh sering melakukan kesalahan, 
maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. 
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh. 

Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya 
mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan 
uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Curhatan angin

.
1 komentar

Mengingat waktu yang semakin menyempit,membayangkan hidup yang tak henti-hentinya berhadapan dengan persoalan dan dilemma kehidupan.merenung keberadaan diri ditengah memanasnya situasi…hatiku terasa asing ketika melihat sekelilingku penuh dengan suara menggelikan.geli karena menganggap aktivitas yang ku lakukan  terasa jijik  dan nggak berarti apa-apa…mungkin mereka jijik ketika mendengar tangis ibu yang nggak bisa membelikan susu anaknya...atau mereka jijik melihat aku yang selalu berbicara tentang orang-orang pinggiran yang hampir mati kelaparan…mereka selalu berkata”ngurus diri sendiri aja belum beres,mau ngurusin orang lain”…emmm,,,mungkin mereka mengganggap aku orang yang dungu.Klo dipikir-pikir apa yang mereka katakan memang ada benarnya.But… nggak tahu kenapa ku merasa bangga dengan apa yang kulakukan.ku merasa senang berada ditengah orang-orang pinggiran.Hahahaha….tapi lucunya,ku bukan orang dermawan yang selalu membagi-bagikan beras atau susu.kerena ku memang nggak mampu untuk itu.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 11 Februari 2010

akulah yang pertama/puisi

. Kamis, 11 Februari 2010
1 komentar

Aku lah yang pertama mengatakan, cinta sebagai cinta
Mencium penghianatan sebagai penghianatan
Melihat kebohongan sebagai kebohongan 
Meraba rindu dalam dusta
Aku lah yang pertama meretas jalanku 
Memilih simpang di antara simpang
Menghempas malam, meminta sepi
Meninggalkan indah, hampiri mati
Aku lah yang pertama, melihat dusta sebagai dusta
Membunuh tuhan, hidupkan satan
Hancurkan pelangi, meminta mimpi
Memuja sedih, hingga ku mati
Aku lah yang pertama mengisi hati dengan cinta
Memberi cinta, dan dihianati 
Hancurkan eksistensi peguasa suci
Belai mentari, tinggalkan bumi
Aku lah yang pertama, membunuh tuhan, lukai malaikat
Terus berkata, karena tak dusta 
Hingga 
Dusta itu muncul lagi

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 10 Februari 2010

Situasi nasional/National Summit 2009:

. Rabu, 10 Februari 2010
2 komentar

Cara Si Pelayan Modal Melapangkan Jalan bagi Sang Tuan Penjajah

Menyingkirkan Rakyat
Pada tanggal 29-31 Oktober, 2009, berlangsung sebuah ajang konsolidasi sekaligus panggung politik (kampanye pencitraan) dari rezim SBY–Boediono, yang juga melibatkan para pengusaha, para kepala daerah, anggota DPR, kaum intelektual dan akademisi dalam memastikan berjalannya program ekonomi rezim SBY–Boediono selama periode efektif 2010-2014, yang dikenal sebagi forum National Summit (Pertemuan Tingkat Tinggi Nasional). Dari forum tersebut terlihat jelas, demi mencapai apa yang sudah ditargetkan untuk periode ke-2 pemerintahan SBY, segala kebutuhan infra sturktur yang diperlukan harus terjamin, sehingga  mulai dari level peraturan (supra struktur), baik yang sudah maupun yang belum ada, akan disesuaikan dan atau akan dibuat sebagai alat legitimasi (pembenaran) untuk menyingkirkan segala hambatan yang akan jadi topangan demi berjalan mulusnya progarm pembanguan ekonomi veri rezim SBY-Boediono. Salah satu contohnya adalah rekomendasi National Summit 2009 dibidang ketenagakerjaan yang akan mendorong revisi atas Undang–Undang Ketenagakerjaan sebagai rekomendasi bidang hukum serta revisi dalam aturan penyelesaian perselisihan hubungan industrial (UU No. 2 tahun 2004/PPHI) dan Undang– Undang JAMSOSTEK (rekomendasi di bidang kesra). Itu semua dilakukan dalam rangka menghilangkan hambatan atau yang sering diistilahkan—baik oleh media maupun pernyataan para pejabat—sebagai “debottolnecking” (mengilangkan sumbatan/hambatan). Pertanyaannnya, apa yang dimaksud dengan hambatan tersebut? Atau lebih konkrit lagi, apa misalnya yang mengahambat dari segi Undang–Undang Ketenagakerjaan yang berlaku sekarang terhadap rencana program ekonomi pemerintahan SBY–Boediono?

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
{nama-blog-anda} is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com