Halaman

Rabu, 10 Februari 2010

taman/oleh roque

. Rabu, 10 Februari 2010

Kala perak matahari pagi mulai mengintip dunia dari upuk timur, kala itu  sinarnya menguapkan embun yang sedang bermesraan dengan dedaunan, kala awan diisi ribut nyanyian burung yang tak berarturan namun indah, kala itu dedaunan mulai bermekaran menyambut hari, kala jiwa-jiwa mulai tersadar dari peraduan, kala itulah selalu terjadi pertengkaran disebuah taman yang mengisi terang siang, kala itulah peghisapan terus terjadi disetiap siang, kala itulah pertarungan selalu jadi warna, mungkin hanya gelap malam yang menghentikannya sejenak, namun jika esok datang lagi maka penghisapan dimulai lagi. Hari yang melelahkan bagi penghuni taman, namun tak ada tempat untuk rehat, tak ada skenario dewa bagi mereka untuk istirahat, sebenarnya mereka lelah, namun itulah peran yang harus mereka jalankan diatas sebuah panggung besar yang bernama taman, entah sampai kapan.


” Tak kulihat lebah pagi ini, apakah ia lupa untuk menjalankan tugas rutin yang suci itu, ataukah lebah telah menemukan sari madu baru dari sebuah bunga yang lebih manis dari sari madu yang ku punya,  ataukah lebah memang sudah puas, akh... itu tidak mungin lebah tak mungkin puas. Seperti bangku itu yang tak pernah bosan mematung disitu dari dulu. Gumam bunga yang baru saja merekah menyambut mentari pagi. Selamat pagi matahari, pagi ini kau bangunkan ku lagi, cahaya indah mu selalu kunanti ditiap pagi-pagi ku, apa kabarmu pagi ini matahari ?
” Selamat pagi juga bunga indah yang selalu menebar aroma mewangi, kabarku masih seperti biasa, sama seperti pagi-pagi sebelumnya, cerah, terik dan bercahaya.
” hey, matahari, apakah kau tidak bosan menyinari bumi setiap pagi datang?
“ mengapa aku harus bosan, tak ada alasan bagi ku untuk bosan membangkitkan keindahan dimuka bumi ini, tak ada alasan untuk bosan bagiku memberi sinar cerah disetiap siang hari, tak ada alasan bagiku untuk bosan menjilat indah tubuhmu dengan sinarku, namun aku sedang bersedih pagi ini bunga.
” Oh.. Ada apa gerangan matahari, apakah yang membuatmu bersedih pagi ini ? apakah mendung akan segera datang mengusirmu, dan menaburkan tetes-tetes air yang kan hilangka eksistensi mu dari awan, dan menghapus indah cahayamu dari langit.
” Tidak, bukan itu bunga... aku tak pernah bersedih jika mendung harus datang dan menggantikan peranku sejenak dari langit ini, bahkan aku selalu menunggu kedatangan sang mendung yang kan mendamaikan dunia dengan tetes-tetes air hujan yang dia punya, tapi ada alasan lain yang membuatku sangat sedih jika membangunkan dunia disetiap paginya.
” Apakah itu matahari, bolehkah bunga ini mengetahuinya, mungkin saja bunga bisa menghapus sedih itu dari terang sinarmu, ku tak tega jika kesedihan menghampiri engkau yang selalu memberi indah disetiap pagi dan memberi terang disiang hari.
” Aku sedih sekaligus lelah bunga.. aku sedih jika harus memberikan cahaya indahku ini bagi para perusak indah dunia, aku sedih jika sinarku ini menciptakan pertengkaran dimuka bumi,  aku sedih jika jiwa-jiwa kotor itu menikmati hangat sinarku, aku sedih jika harus membangunkan lebah yang nantinya akan menghisap sari-sari suci dari tubuhmu, aku sedih bunga, karena jika dipikir-pikir sebenarnya akulah sebenarnya perusak bagi dunia....
” Mengapa kau berkata seperti itu matahari, kau membuatku ingin menangis saja, sesungguhnya tak ada jiwa yang sangat suci diatas bumi ini selain kau matahari, tak ada jiwa yang dapat memberikan kebahagiaan seperti yang telah kau berikan selama ini pada dunia. Tak ada kebaikan yang dapat menandingi kebaikanmu matahari, perkataanmu membuatku bersedih pagi ini.
” Tapi peranku sangat besar untuk melanggengkan kejahatan didunia ini bunga... aku lah yang telah membangunkan para koruptor di dunia ini, akulah yang telah membangunkan perampok didunia ini, akulah yang membangunkan pencuri, pemerkosa dan para jahanam pendosa dunia setiap pagi, aku sedih mengapa cahaya indahku harus menjadi siksaan bagi ku.
” kau jangan berkata seperti itu matahari, mereka jahat bukan karena sinar jinggamu yang hadir pagi hari, bukan pula karena cahayamu yang menerangi siang hari, mereka jadi pendosa bukan karena engkau yang senantiasa setia membangunkan mereka tiap pagi.
” tapi bunga, jika aku tak datang tiap pagi, jika hari selalu gelap ku yakin para pendosa itu akan terus terlelap, jika bulan terus bergantungan dilangit ini ku yakin mereka akan terus terbuai dalam mimpi, akulah bunga... akulah yang telah membangunkan mereka sehingga mereka melakukan kejahatan lagi diatas bumi hari ini, esok lusa dan seterusnya hingga habis dunia, hingga cahayaku meredup. aku lelah bunga, lelah.. lelah jika tiap paginya harus membangunkan para penjahat dari peraduan, ” apakah keindahan sinarku adalah kutukan bagiku, oh... Dewa engkau sungguh tidak adil bagiku....
” sudahlah matahari, kau jangan bersedih, kau tidak bersalah, jangan kau terlalu menyalahkan dirimu, sesungguhnya kau adalah anugerah bagi semesta alam ini.
Bangku taman yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara bunga dan matahari hanya terdiam membisu, sampai akhirnya hatinya pun bergejolak untuk bersuara....
Dengan senyum sinisnya akhirnya bangkupun berucap, ”hey... matahari kau itu masih untung,  kau itu masih mending matahari.
“ oh... bangku ku yang setia menemani hari-hariku ada apa gerangan pula dengan dirimu ¿ timpal sang bunga.
“ ya... memangnya kesialan apa, dosa apa, derita apa yang menghampiri dirimu itu, tambah matahari.
“ aku heran dengan kalian berdua, apakah kalian buta selama ini,  apakah kalian  tak melihat kesialan yang terus menimpa pundakku.... apakah kalian tak melihat derita yang selalu ku panggul sepanjang hari.... kalian tahu setiap siang ku hanya diberi pantat oleh manusia-manusia bumi, bahkan tak jarang mereka mengentutiku, manusia-manusia itu hanya perlu aku ketika mereka lelah, dan butuh istirahat, kadang mereka menginjak-injak pundakku, bahkan kemarin ada manusia yang tega meludah diatas kakiku, aku yang sangat sial sesungguhnya matahari... belum lagi ketika malam menjelang aku harus terdiam tak mampu berbuat apa - apa ketika sepasang muda-mudi beradu kasih diatas pundakku, ketika mereka melakukan kemaksiatan diatas bahuku, aku tak kuasa berontak.... aku hanya membisu mendengar desahan napsu birahi mereka yang sedang beradu.... aku.. aku lah yan sebenarnya sangat sial ditaman ini....
“ hei.. mengapa pagi ini diisi oleh keluh kesah dari kalian semua, ujar bunga. Ini pagi yang indah, alangkah baiknya jika kita menikmati keindahan yang disajikan dewa, mengapa kita harus mengeluh.
” tapi, bangku benar bunga, seperti aku ternyata dewa pun tak adil pada bangku.
“ tapi mengapa kalian tidak melihat sisi kebaikan yang telah kalian berikan pada dunia, bela bunga untuk memberi semangat pada matahari dan bangku, aku pun memiliki sederet derita yang harus kulalui tiap harinya, namun aku tetap bisa tersenyum didepan kalian, apakah kalian kira aku senang jika tiap hari ribuan kumbang menghampiriki dan menghisap sari-sari madu dari dalam batang-batangku.
“ tapi bunga ¿ ucap bangku.
“ Tapi apa ¿
“ eee... ya sudahlah tak usah diperdebatkan, sahut bangku.
Akhirnya matahari dan bangu pun mengangguk seolah mengiyakan perkataan bunga walau dengan berat hati. Akhinya dengan senyum yang setengah dipaksa mataharipun mulai menyapa dan memberi hangat pada semesta alam, sedangkan bangku kembali terdiam mematung dengan ratapan sesal yang terus mengalir dalam jiwanya.
Matahari mulai menambah volume hangatnya untuk dunia, perlahan merangkak memanjat awan tuk menunju puncak dan memberikan terik dari atas sana..
Dari kejauhan terlihat segerombolan lebah dengan suara ributnya datang menghampiri taman, tentunya dengan satu motivasi, ya.. untuk mengisap sari madu yang mengalir dibatang-batang kecil sang bunga.
“ hai semua.... apa kabar kalian pagi ini, ucap seekor panglima yang memimpin segerombolan lebah tersebut.
” oh… lebah datang lagi guman bungan dalam hati.. dengan senyum yang sinis
matahari hanya tersenyum, melihat raut sinis bunga ketika lebah datang menghammpirinya, Dan bangku taman hanya memberi senyum sesaat atas kedatangan lebah dan kembali diam terpaku meratapi nasib sial yang harus diemban selamanya,  ya selamanya hingga tak ada orang lagi yang butuh tempat istirahat, hingga satu-persatu tak ada lagi jiwa yang berkeliaran diatas bumi
“ hai bunga kau begitu indah pagi ini, oh.. aroma semerbakmu memabukkan jiwaku, kau adalah keidahan disetiap pagi-pagi ku, apa kabarmu sayang,  apakah kau telah siapkan sari madu untuk ku isap pagi ini...
“ huh… gumam bunga yang tak rela jika lebah menghisap sari madu dari dalam jiwanya.
“ Buat apa kau berlagak ramah pada ku penjajah, aku tak pernah percaya dengan mulut manismu karena yang kau bisa hanya menghisap dan terus menghisap manis sari madu yang ku punya.
“ jangan kau berkata seperti itu sayang, bukan kah takdirmu di dunia ini untuk terus mendampingiku dan mempersembahkan sari-sari madumu untuk ku hisap dan kunikmati.
“ itu memang benar, tapi jika harus memilih, aku tak sudi menjadi bunga yang hanya bisa menjadi pemuas nafsumu saja.
Dari kejauhan tampak matahari tertawa terbahak-bahak mendengar percakapan bunga dan lebah…
“ hai bunga ternyata dewa sekalipun tak adil kepadamu, walaupun kau memancarkan keindahan ditaman ini tapi ternyata kau menyimpan segumpal sesak dan penyesalan, ternyata bukan hanya aku dan bangku saja yang diperlakukan tidak adil oleh para dewa ternyata kau juga bunga. Ha..ha..ha... kita senasib bunga.
“ hai matahari memangnya kau senasib apa dengan bunga, ketus lebah. Yang kau punya hanya panas berbeda dengan bunga, ia memiliki aroma harum nan mewangi, yang kau punya hanya terik sedangkan bunga memiliki keindahan yang terpancar dari kelopak-kelopak yang tersusun rapi diatas batang-batangnya.
“ itu memang benar, ucap bangku yang coba untuk memberi sedikitr argumentasi dari percakapan lebah dan matahari..
“ benar apa bangku tanya lebah ¿
“ iya... yang kau katakan tadi memang benar, perkataan mu tentang setumpuk keindahan yang dimiliki bunga itu memang benar, tapi itu hanya tampak dari luar saja sesungguhnya apakah kau tahu apa sebenarnya yang ada dikepala dan hati bunga bila selalu kedatanganmu tiap pagi “
“ apa ¿ tanya lebah.
“ Ha..ha..ha... kau memang goblok lebah, apakah kau tidak berfikir bahwa bunga tak pernah senang dengan kedatanganmu tiap pagi ketaman ini lalu kemudian menghisap sari madu yang mengalir dibatang-batangnya.
“ kau yang goblok bangku, memangnya kau tahu apa yang ada di pikiran bunga.
“ dasar.... keras kepala, ucap bangku lirih dan kembali terpaku dan meninggalkan perdebatannya berdua lebah.
“ tak usah kau dengarkan ucapan-mereka mereka bunga, dengan sedikit menggombal, lebah kembali merayu bunga.
Namun bunga tetap saja terdiam dengan mimik yang penuh tanya.... dalam hati bunga berucap apakah maduku yang membuat lebah itu pintar berbicara manis,,apakah aku memberi kontribusi besar dari ucapan ucapan gombal yang keluar dari mulutnya.
Tanpa menggubris traut wajah bunga yang kaku seperti tak ad nyawa didalamnya, lebah perlahan mulai merapat pada susunan kelopak yang tertata rapi batang hijau yang berduri.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

 
{nama-blog-anda} is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com